Langit Biru (Sebuah Cerpen)

20 Nov 2019

Oleh: 

M. Ihsanuddin Nursi

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Mahasiwa D4 Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Surabaya

 

 

            Warna jingga ufuk barat kembali terlelap, bayang-bayang mulai padam tertutupi beton yang tersusun memanah langit. Mungkin ia lelah setelah menerangi ibu kota yang dipenuhi karbondioksida, diiringi kendaraan bermotor yang saling bersaut-sautan menuju kediaman mereka untuk membayar lelah setelah bekerja seharian. Nun, di pusaran ingar-bingar kota Jakarta masih berdiri kokoh Monumen Nasional dengan lidah api sebagai makna perjuangan bangsa ini yang tak pernah padam.

“Ya tidak padam”

Perjuangan rakyat yang mengemis di negerinya yang kaya, para kuli yang membabu dirumahnya sendiri, dan perjuangan orang-orang yang gemar sekali cuci tangan dari keringat rakyatnya sendiri.

            Sedetik kemudian Matahari telah resmi meninggalkan ibu kota, menghilangkan diri dari keramaian para khalayak yang masih sibuk dengan dunia mereka sendiri. Namun di seberang jalan sana, berdiri seorang laki-laki dengan rambut yang tak lagi hitam pekat, serta raga yang tampak lusuh, melambaikan senyum lebarnya dengan mendekap tumpukan koran bercampur keringat, karena menggantung hidup pada pengendara yang berlalu lalang, “koran koran, koran koran!,” dengan nada yang terseok-seok karena raga mulai terkikis oleh waktu. Namun meskipun begitu Pak Mamat masih terlihat semangat, tampak dari aura kebahagian yang dipancarkannya kepada para pengendara. Meskipun udara jalanan yang tak sehat, panas yang menyengat, dan penghasilan yang tidak pasti, baginya bukan lagi sebuah siksaan yang perlu ditakuti tapi semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dinikmati.

            Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya, Pak Mamat yang biasaanya hanya bekerja 8-9 jam perhari, di bulan ini jiwa mudanya kembali hidup dengan menghabiskan waktu untuk bekerja 12-15 jam perhari. Semua itu tidak lepas dari selembar foto yang sesekali Pak Mamat lihat kala lelah, selembar foto itu seperti sebuah amunisi penyemangat di hati Pak Mamat, karena pada selembar foto itu  terlihat dua orang yang telah membuat hidup Pak Mamat semakin berarti, di foto itulah Pak Mamat tetap melihat istrinya seperti seorang gadis desa yang lugu dalam keindahan adab dan parasnya, dengan sorot mata yang memikat ditambah senyuman manis dan kecantikan nan begitu elok untuk dipandang, dan di pangkuan kekasihnya itu tampak buah hatinya yang menjadi pelengkap kebahagiaan di hidup Pak Mamat, wajahnya begitu polos dan juga memiliki paras seperti ibunya. Kedua orang itulah yang menjadi alasan bagi Pak Mamat untuk tetap semangat dalam perantauan, meskipun harus menanggung kerinduan pada mereka yang berada jauh di kampung halamannya.

            Malam telah mencapai puncaknya, dikayuhnya sepeda ontel menuju sebuah gubuk sederhana dengan tertatih-tatih. Sesampainya di sana, Pak Mamat langsung membersihkan diri untuk menyatu pada takbir di hadapan Sang Maha Pencipta memohon dengan sangat  pengampunan dosa untuk kedua orang tuanya, guru, keluarga dan semua orang-orang beriman, serta memohon agar diberikan kekuatan dan keyakinan hati untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana, dan dalam doanya tersebut dituangkan semua kerinduan kepada keluarganya, berharap Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berkenan memberikannya kesempatan agar selalu dikumpulkan bersama mereka, baik di dunia dan di akhirat (surga) nantinya.

Setelah sekian lama Pak Mamat berdoa, diambilnya uang logam dan kertas untuk keperluan secukupnya, dan selebihnya ia simpan sebagai ongkos pulang kampung dan untuk   membeli hadiah ulang tahun anaknya. Setelah itu Pak Mamat memandangi foto istri dan anaknya dengan mata yang berkaca-kaca karena ketulusan cinta dan kerinduan kepada mereka.

“Fatma, kau adalah pelita dalam dekap kerinduan, memahat hati yang pilu ingin bertemu.   Bagaimana kabarmu Nak? maafkan Bapak yang harus merantau jauh, melebar jarak temu kebersamaan kita. Tapi percayalah Nak, Bapak melakukan semua ini agar bisa membelikan Fatma dan Zahra makanan yang enak, baju yang bagus, dan mainan yang banyak.”

(Tubuh Pak Mamat cukup kuat melawan panas Matahari, dan menghirup udara yang tak sehat, tetapi hatinya sangat lemah ketika terbayang-bayang senyuman istri dan anaknya, hingga ia tak tahan membendung air mata kerinduan kepada mereka.)

Diusapnya air matanya, dan berbaringlah dia di atas lantai beralas kardus sambil memandangi langit gubuk yang berlubang dihiasi jaring laba-laba. “Subhanallah Walhamdulillah Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar.” Begitulah dzikir yang selalu ditasbihkan oleh Pak Mamat, atas kenikmatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT yang senantiasa memberikannya kesehatan untuk bekerja, kewarasan untuk berfikir dan kenikmatan hati agar selalu bersyukur atas segala pemberian dari Sang Maha Memiliki, serta agar diberikan kekuatan untuk menahan kerinduan kepada istri dan anaknya

Seperti biasanya Pak Mamat bangun di sepertiga malam untuk melantunkan dzikir dan do’a kepada Sang Maha Kuasa. Setelah itu, Pak Mamat melakukan pekerjaan rumah dengan mandiri dan sebaik mungkin, seperti menyapu, memasak, mencuci dan lain sebagainya, ketika waktu subuh tiba kembali dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba. Kemudian setelah sholat subuh dipakainya pakaian yang biasa dia gunakan untuk mengantarkan surat kabar dan selebihnya dia jual di persimpangan jalan kota. Sebelum Pak Mamat berangkat dilihatnya sebuah lukisan yang dia tempel pada dinding gubuknya yang reyot. Lukisan itu tampak berdebu dan warnanya pun mulai pudar, tapi lukisan itu tetap sangat berarti bagi Pak Mamat, lukisan itu seperti sebuah harapan yang dilukiskan melalui imajinasi anaknya, yang dipersembahkan untuk Pak Mamat di saat hari ulang tahunnya.

“Bismillah.” Berangkatlah Pak Mamat dengan sepeda ontelnya, menjalani aktivitas kesehariannya dalam perantauan dan kerinduan.

            Bumi, Bulan, Langit dan Matahari; piawai memainkan perannya, begitupula dengan hati pak Mamat yang tak sabar menumpahkan rasa kerinduan kepada istri dan anaknya di kampung halaman. Hari ini tidak ada lagi tumpukan koran dipangkuan Pak Mamat, karena besok adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Pak Mamat. Digapainya sebuah kardus di atas lemari, di kardus itu terdapat sebuah celengan yang akan digunakan untuk biaya transportasi dan membeli hadiah di hari ulang tahun anaknya yang akan genap 8 tahun. Setelah menghitung dan dirasa cukup Pak Mamat masih kebingungan untuk memilih hadiah yang akan diberikan kepada anaknya, Pak Mamat memandangi lukisan di dinding yang dilukis oleh anaknya itu, setelah berfikir sejenak. Pak Mamat akhirnya memutuskan untuk membeli krayon dan kertas gambar dengan kualitas yang sangat baik sebagai hadiah untuk anaknya, Pak Mamat memutuskan membeli barang-barang itu karena dia tahu anaknya gemar sekali melukis.

            Langit berganti malam, barang-barang seperlunya telah dibawa termasuk krayon dan kertas gambar yang dibungkus dengan kertas kado dan tidak lupa selembar foto serta lukisan di dinding gubuknya yang reyot. Dengan rasa yang tak sabar Pak Mamat telah berangkat menaiki bus jurusan Jakarta – Sumenep.

12 jam berlalu, melintas laut terhirup udara segar khas pedesaan yang masih terjaga alamnya, setibanya di kampung halamannya yang terletak di ujung pulau garam (Madura), terlihat matahari masih terlelap, sesampainya dia di tempat yang dituju, degup jantung Pak Mamat berdetak lebih cepat, langkah kakinya pun tampak lebih pelan, entah dia gugup karena kerinduanya kepada istri dan anaknya atau karena tidak ingin membangunkan orang-orang yang sedang beristirahat. Beberapa waktu kemudian, langkah Pak Mamat terhenti, ia hanya terdiam dengan linangan air mata, digenggamnya segumpal tanah yang masih terasa dingin karena Matahari belum tampak, “Zahra, apa kabar? maaf ya Zah akhir-akhir ini aku jarang sekali menemui kamu dan Fatma di sini.” Ucap Pak Mamat dengan nada yang tersedu-sedu. Pak Mamat berusaha menahan air matanya, mungkin dia malu karena takut terlihat cengeng oleh anaknya yang juga terbaring di samping istrinya. Kemudian Pak Mamat duduk di samping putrinya yang enggan bangun dari tidurnya, lalu Pak Mamat menunjukkan hadiah ulang tahun untuk Fatma, anak semata wayang yang sangat ia sayangi, ”selamat ulang tahun ya Nak, bagaimana kabarmu Nak? Bapak tau kok, kalau Fatma sudah semakin cantik sekarang, oia ini Bapak bawakan krayon dan kertas gambar yang bagus, biar lukisan Fatma jadi lebih cantik, seperti Fatma.” Pak Mamat tidak bisa lagi menahan air matanya di hadapan anaknya yang sangat ia sayangi, air mata itu kemudian menetes membasahi tanah dihadapanya. “Fatma… Fatma… Fatma… maafkan Bapak, Nak.“ Dengan nada yang tersedu-sedu, diiringi air mata kesedihan  hingga ia terlelap.

Tiba-tiba terlihat tangan mungil menggenggam tangan Pak Mamat, terasa kehangatan dari tangan yang tak asing baginya, “Pak,” suaranya halus, dengan senyuman yang merekah dan paras nan cantik. “Faa…tttmaa…,” dipeluknya anak itu dengan kasih sayangnya, hingga air mata kembali membasahi wajah Pak Mamat, “Pak, jangan terlalu kencang peluknya, Fatma kgak bisa napas nih!,” ucap Fatma dalam pelukan Pak Mamat, “iya Mas, kasian anak kita,” kata seorang wanita yang memolotinya dan mengarahkan genggamannya ke arah Pak Mamat yang masih memeluk anaknya, “hehehe, iya Zahra, maaf namanya juga kangen,” jawab Pak Mamat sambil tersenyum, “hmmm iya Mas, kangen tapi tidak begitu juga, kan kasian Fatma.” Dipeluklah istri dan anaknya, karena akhirnya Pak Mamat bisa bertemu kembali dengan mereka. “Zah… aku baru sadar tempat ini indah sekali, siapakah yang punya tempat seindah ini Zah?,” tanya Pak Mamat  yang takjub dengan keindahan tempat yang ia pijak. Tanah yang luas dipenuhi berbagai macam bunga, air sungai yang mengalir jernih, dan juga sebuah rumah mewah berdiri kokoh yang di baliknya terlihat gunung yang menjulang tinggi berselimut awan. “Ini semua punya kita Mas, masak punya kucing!” jawab istrinya dengan senyuman. Pak Mamat merasa kebingungan dengan jawaban istrinya, karena keluarganya tidak mungin memiliki tempat seindah ini, “iya Pak, betul kata Ibu, Om Malaikat sendiri yang mengatakan kalau Bapak sudah membeli semua ini dengan tetesan keringat Bapak yang ikhlas bekerja untuk Fatma dan Ibu,” ucap Fatma dengan polos. Pak Mamat masih terlihat kebingungan dengan apa yang diucapkan istri dan anaknya, tapi Pak Mamat tidak terlalu memperdulikan itu, baginya menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya adalah salah satu anugerah dari Sang Maha Kuasa kepadanya.

Diangkatnya tubuh Fatma yang mungil, kemudian Pak Mamat menaruhnya di atas pundaknya, “wahh.. Fatma sudah tambah berat nih!.” Fatma terlihat sangat gembira berada di pundak Bapaknya, “iya dong Pak, Fatma kan pengen cepat besar juga, biar tambah kelihatan cantik kayak Mama. ”Zahra tersipu malu mendengar anaknya berkata seperti itu, “kheemmm sepertinya ada yang lagi GR nih, karena dibilang cantik,” ucap Pak Mamat sambil melirik istrinya dengan senyuman kecil. “ehh.. kenapa Mas ngelirik aku seperti itu, ohhh.. jadi menurut Mas selama ini aku tidak cantik,” ucap Zahra yang merasa tersinggung dengan ucapan suaminya, “bukan Bapak yaa.. yang ngomong kamu tidak cantik,” ucap Pak Mamat sambil tersenyum. Mendengar perkataan suaminya, Zahra mencubitnya hingga Pak Mamat teriak kesakitan, Fatma tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku kedua orang tuanya yang seperti anak kecil. Semakin keras Fatma tertawa, semakin kuat cubitan dari Zahra, dan semakin keras pula Pak Mamat berteriak kesakitan.

...

Setelah separuh hari bermain bersama istri dan anaknya, Pak Mamat merasakan kebahagian yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata. “Pak… Fatma ngantuk, pengen istirahat,” pinta Fatma dengan wajah yang tampak lesu karena terlalu lama bermain dengan kedua orang tuanya, “yaudah klo gitu, Fatma istirahat dulu di rumah, ayo Zah… kita antar Fatma ke kamarnya,” kata Pak Mamat, “tidak perlu Mas, biar aku saja yang nganterin Fatma, Mas tunggu di sini saja dulu”. Dikecuplah kening istri dan anaknya yang sangat disanyangi oleh Pak Mamat, “baiklah kalau gitu Zah, oia...Fatma ini ada hadiah ulang tahun untuk Fatma, selamat ulang tahun ya Nak.” Diserahkannya sebuah bingkisan dari dalam tas yang Pak Mamat kenakan, “waahhhhh… terimakasih Pak, Fatma sayang Bapak,” ucap Fatma sambil memeluk Bapaknya, ”kheemmm, kok cuman Bapak yang dipeluk, Ibu kgak disayang Fatma ya?” ucap Zahra sambil tersenyum ke arah Fatma. Mendengar perkataan ibunya, Fatma menghampiri Zahra dan memeluknya juga. “Yaudah Mas, aku sama Fatma mau istirahat dulu ya, Mas jaga diri baik – baik”, mendengar perkataan istrinya tiba-tiba air mata Pak Mamat kembali menetes, “loh… Bapak kok cengeng sih! aku sama Ibu cuman mau istirahat, kami tidak pergi jauh-jauh kok Pak, lagian Fatma dan Ibu selalu ada di hati Bapak juga kan,” ucap Fatma yang ada dipangkuan ibunya sambil menunjuk ke dada Pak Mamat dengan jari telunjuknya yang mungil. Pak Mamat hanya bisa terdiam dengan air matanya, “daa… dah, Bapak,” ucap Fatma dengan lambaian tangannya dan ibunya sambil tersenyum. Dan seketika itu pula istri dan anaknya tiba tiba menghilang. “Fatma… Zahra… Fatma…. Zahra,” teriak Pak Mamat dengan raut muka yang masih kebingungan mencari istri dan anaknya yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya.

“Pak.” Ditepuknya pundak Pak Mamat. “Fatma!” ucap Pak Mamat yang cukup kaget dengan wajah penuh harap. “Assalamualaikum Pak Mamat, lama tidak ketemu Bapak, bagaimana kabarnya Pak?” ucap seorang laki-laki separuh baya, mengenakan kaos putih dan celana pendek menutupi lutut, sambil menggenggam cangkul di tangan kirinya. “Astaufirullah (gumam pak Mamat dalam hati,)  Alhamdulillah baik Pak Malik, baru tadi subuh saya tiba di sini Pak, kalau Bapak sendiri kabarnya bagaimana?” “iya Pak Alhamdulillah masih diberikan kesehatan sama yang Maha Kuasa, hmm… klo dilihat dari wajah Bapak, Bapak masih bersedih ya atas kematian istri dan anaknya Pak Mamat?” “iya Pak, saya masih berat hati dengan kepergian mereka, apalagi mereka meninggalkan saya di hari ulang tahun saya, sebab kecelakaan ketika mereka hendak pulang setelah meninitipkan sebuah paket yang berisi hadiah ulang tahun untuk saya,” ucap Pak Mamat dengan nada yang tertatih-tatih, ditunjukkannya sebuah lukisan hadiah ulang tahun dari anaknya, “ini adalah hadiah ulang tahun dari anak saya Pak.” Pak Malik terharu dengan cerita yang ia dengar, dan diamatinya lukisan yang ditunjukkan oleh Pak Mamat. “Masyaallah, bagus sekali lukisannya anak Bapak,” ucapnya sambil memegang lukisan yang ditunjukkan oleh Pak Mamat.

Di lukisan itu terlihat sebuah rumah dengan halaman yang indah dipenuhi oleh bermacam bunga yang berwarna-warni, di sebelahnya juga terdapat aliran sungai yang berasal dari lereng gunung yang menjulang tinggi, terselimuti oleh awan-awan kecil, dan di atasnya terlihat gambar Matahari yang tampak tersenyum menyinari alam semesta, di bawah sinar Matahari itu terlihat 3 gambar manusia yang saling bergandengan tangan dengan wajah tersenyum ria. Diamatinya lagi lukisan yang digenggamannya, Pak Malik baru menyadari di atas Matahari yang tersenyum itu tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam, dan kalimat itu berbunyi “Langit Biru”.

TAMAT

Surabaya, 23 Oktober 2019


Postingan Terkini

Pemilukada Oleh DPRD, Benarkah Amanah

Oleh:

Lukman Hakim

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Ketua Ikatan Mahasiswa . . . BACA SELANJUTNYA

Langit Biru (Sebuah Cerpen)

Oleh: 

M. Ihsanuddin Nursi

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Mahasiwa D4 Teknik . . . BACA SELANJUTNYA

Urgensi Media Sosial dalam Peyebaran

Oleh : Khoirun Nisa'

(Alumni pp. Nazhatut Thullab Sekaligus Mahasiswa Aktif di . . . BACA SELANJUTNYA

Peran Pondok Pesantren Dalam Menjaga

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

BACA SELANJUTNYA

Analisis Kebijakan Publik Mengenai Perppu

Oleh : Nur Jamal

 

Pendahuluan

Pemerintah resmi menerbitkan . . . BACA SELANJUTNYA

Hegemoni Kiai dan Blater Dalam

Oleh : Nur Jamal

 

Teori  Hegemoni 

Secara subtansial . . . BACA SELANJUTNYA

Pondok Pesantren : Peran dan

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

 

BACA SELANJUTNYA

Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-Ilmu

 Oleh: Muh. Sholeh Hoddin*

Keberadaan agama diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan . . . BACA SELANJUTNYA

Membangkitkan Kembali Semangat Menulis

“Membaca Belum Tentu Menulis, Tetapi Menulis Sudah Pasti Membaca”

 

BACA SELANJUTNYA

Maha-Santri, antara Harapan, Tanggung Jawab,

Dalam evolusi perkembangan pendidikan di Indonesia, setiap elemen harus melakukan pendongkraan yang sangat . . . BACA SELANJUTNYA