Pondok Pesantren : Peran dan Sumbangsihnya Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia.

24 Apr 2019

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

 

Pondok Pesantren adalah sebuah tempat pendidikan yang siswanya atau lebih sering disebut dengan Santri tinggal dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap (tinggal) para santri. Siswa atau santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan Masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai).

Pondok Pesantren Merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu atau yang lain. Disamping itu, kata pondok mungkin berasal dari bahasa arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Istilah pondok pesantren sering digunakan di Sunda, sebagian besar pulau Jawa dan Madura namun di daerah lain, seperti Aceh menggunakan istilah Dayah, Rangkang atau Menuasa ataupun di Minangkabau yang memakai istilah Surau. Namun itu hanya berbeda dalam penyebutan atau istilahnya saja sedangkan dari sebutan-sebutan tiap-tiap daerah ini memiliki arti dan pengertian yang sama.

Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, di mana pada awal kemunculanya, materi yang dikaji lebih terfokus kepada ilmu-ilmu agama seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya Pondok Pesantren mempergunakan rujukan kitab-kitab karangan Ulama abad pertengahan. Di antara kajian yang ada, materi nahwu (gramatikal Arab) dan fiqih mendapat mendapat porsi mayoritas. Hal itu karena Pondok Pesantren memandang bahwa ilmu nahwu  adalah ilmu kunci untuk dapat menguasai ilmu-ilmu keagamaan lain yang memang lebih banyak ditulis menggunakan dengan bahasa arab sehingga perlu bagi para santri untuk menguasai dan memahaminya. Seseorang tidak dapat membaca Kitab Kuning (istilah untuk kitab kajian yang biasanya dicetak dengan kertas berwarna kuning) bila dia belum menguasai ilmu nahwu. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga sebagian pakar menyebut sistem pendidikan Islam di Pondok Pesantren dahulu bersifat “Fiqih Oriented” atau “Nahwu Oriented”.

Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, sekarang ini banyak pondok pesantren menggabungkan antara pendidikan dan pengajaran tradisional dengan pendidikan modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan. Namun secara reguler sistem pendidikan terus dikembangkan. Lebih dari itu, pendidikan kemasyarakatan pun menjadi obyek pendidikan pondok pesantren saat ini. Dalam arti yang sedemikian rupa dapat dikatakan bahwa pondok pesantren telah ikut berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.

Dalam perkembangan yang dilakukan oleh pondok pesantren pada sistem pendidikan yang ada, tidak serta merta menghapus sistem pendidikan sistem klasikal mereka. Sistem pendidikan klasikal yang memang telah menjadi ciri khas pondok pesantren tidak mereka hapus, Pondok pesantren hanya menambahnya dengan sistem pendidikan non klasikal (sistem pendidikan modern) yang tentunya akan menambah nilai plus pondok pesantren itu sendiri karena selain mereka unggul dalam pendidikan berbasis keagamaan, pondok pesantren juga tidak ketinggalan dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada pada sistem pendidikan modern yang lebih banyak diminati oleh masyarakat sekarang ini.

Dengan adanya inovasi yang dilakukan oleh pondok pesantren sekarang ini dalam sistem dan metode pendidikanya, hal itu membawa dampak yang sangat signifikan terhadap pendidikan yang ada sekarang ini, baik pendidikan agama yang memang menjadi titik berat pondok pesantren juga pendidikan modern yang sesuai dengan zaman sekarang ini.

Tidak hanya itu, keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang didirikan atas peran serta masyarakat, telah mendapat legitimasi dalam Undang-Undang Sisdiknas. Ketentuan mengenai hak dan kewajiban masyarakat pada Pasal 8 menegaskan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Sedangkan dalam Pasal 9 dijelaskan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketetntuan ini berarti menjamin eksistensi dan keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dan diakomodir dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini dipertegas lagi oleh Pasal 15 tentang Jenis Pendidikan yang menyatakan bahwa jenis pedidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Pesantren adalah salah satu jenis pendidikan yang fokus di bidang keagamaan.

Lebih jauh lagi, saat ini pesantren tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan keagamaan semata. Namun, dalam perkembangannya ternyata banyak juga pesantren yang berfungsi sebagai sarana pendidikan nonformal, di mana para santrinya dibimbing  dan dididik untuk memiliki kemampuan dan keterampilan sesuai dengan bakat para santrinya. 

Dari hal-hal yag dipaparkan di atas, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa peran pondok pesantren terhadap pendidikan sangatlah besar, mulai dari pendidikan keagamaan, peindidikan umum hingga sosial kemasyarakatan dapat mereka integrasikan dengan baik dalam satu sistem pembelajaran. Jadi sepantasnyalah pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

 

~ Semoga Bermanfaat ~


Postingan Terkini

Problem Organisasi dan Pengungkapan Keributan

Oleh :

Abdullah

 

Kapan kira-kira terakhir kali Anda bangun di pagi hari? Atau Anda memang tidak pernah . . . BACA SELANJUTNYA

Kalah Bukan Alasan untuk Saling

Oleh: Abdullah

 

Tentu Anda tidak bosan-bosannya selalu diingatkan tentang bagaimana . . . BACA SELANJUTNYA

Pemilukada Oleh DPRD, Benarkah Amanah

Oleh:

Lukman Hakim

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Ketua Ikatan Mahasiswa . . . BACA SELANJUTNYA

Langit Biru (Sebuah Cerpen)

Oleh: 

M. Ihsanuddin Nursi

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Mahasiwa D4 Teknik . . . BACA SELANJUTNYA

Urgensi Media Sosial dalam Peyebaran

Oleh : Khoirun Nisa'

(Alumni pp. Nazhatut Thullab Sekaligus Mahasiswa Aktif di . . . BACA SELANJUTNYA

Peran Pondok Pesantren Dalam Menjaga

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

BACA SELANJUTNYA

Analisis Kebijakan Publik Mengenai Perppu

Oleh : Nur Jamal

 

Pendahuluan

Pemerintah resmi menerbitkan . . . BACA SELANJUTNYA

Hegemoni Kiai dan Blater Dalam

Oleh : Nur Jamal

 

Teori  Hegemoni 

Secara subtansial . . . BACA SELANJUTNYA

Pondok Pesantren : Peran dan

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

 

BACA SELANJUTNYA

Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-Ilmu

 Oleh: Muh. Sholeh Hoddin*

Keberadaan agama diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan . . . BACA SELANJUTNYA