Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial

09 Nov 2018

 Oleh: Muh. Sholeh Hoddin*

Keberadaan agama diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan berbagai persoalan yang terjadi di tengah umat. Agama bukan hanya sekedar simbol ketaatan, apalagi berhenti pada formalitas verbal dalam setiap ceramah, tetapi seyogyanya secara konsepsional memberikan solusi yang paling efektif dalam setiap permasalah tersebut.

Harapan terhadap agama yang sedemikian rupa dapat terjawab apabila pemahaman agama tidak hanya menggunakan pendekatan teologis, tetapi juga memerlukan pendekatan lainnya, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul. Ada banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya memahami agama yang secara fungsional berdampak pada kebermanfatan dan terasakannya keberadaan agama oleh penganutnya.

Bermacam pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.

Walupun Islam lahir di tanah Arab, tetapi ia bukanlah murni milik dan dipengaruhi oleh fenomena yang berada di daerah Timur  Tengah saja. Islam berkembang di Asia Tenggara dan Benua lainnya dengan kekuatan yang memberikan pengaruh besar. Proses sosialisasi dan simbolisasi Islam dengan lingkungan, di mana Ia tumbuh yang meliputi keyakinan, budaya, bahkam ideologi sekuler, membuat Islam sebagai agama menjadi aspek yang terpenting dalam kajian agama secara general (Martin, 1985: 10).

Studi tentang Islam dapat dimulai dengan telaah analitis mengenai tabiat atau karakternya. Studi jenis ini bermaksud mengurai, menerangkan, menjabarkan dan mungkin pula menjelaskan kata atau proposisi yang tidak jelas. Penulis akan menguraikan topik-topik tentang ilmu keislaman dan studi keislaman bagi masyarakat Barat dengan menggunkan pendekatan ilmu sosial.

Sejarah Pertumbuhan Ilmu-Ilmu Keislaman

Sejarah awal kelahiran, Islam telah memberikan penghargaan begitu besar terhadap ilmu. Pandangan Islam tentang pentingnya ilmu tumbuh bersamaan dengan kelahirannya Islam itu sendiri. Ketika Rarulullah SAW menerima wahyu pertama yang mula-mula diperintahkan kepadanya ‘membaca’. Pada masa kejayaan umat Islam, khususnya pada masa pemerintahan dinasti Umayah dan dinasti Abasyiah, ilmu Keislaman tumbuh dengan sangat pesat dan maju. Kemajuan ilmu Keislaman telah membawa Islam pada masa keemasannya.

Dalam sejarah ilmu Keislaman, kita mengenal nama-nama tokoh ilmu di antaranya Al-Mansur, Harun Al-Rosyid, Ibnu Kholdun, dan lain sebagainya yang telah memberikan perhatian besar terhadap ilmu Islam. Pada masa itu proses penterjemahan karya-karya filosof Yunani ke dalam bahasa arab berjalan dengan pesat. Sejarah juga mencatat kemajuan ilmu-ilmu Keislaman, baik dalam bidang tafsir, hadits, fiqih dan disiplin ilmu ke-Islam yang lain. Tokoh-tokoh dalam bidang tafsir, antara lain Al-Thabary dengan karyanya Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an al-Bukhary, dengan karya yang diciptakan yaitu Al-Jami’ al-Shahih, Muslim, Ibnu Majah, dan lain sebagainya (Yahya, 1993: 274).

Islamic Studies Model Barat dan Orientalis

Masa Islamic studies model barat dan orientalis dimulai bersamaan dengan munculnya Negara-negara Barat ke pentas dunia, setelah mengalami masa gelap (dark ages) yang cukup lama. Masa ini pula merupakan permulaan Negara-negara barat, yaitu Eropa mempunyai keinginan bertemu dengan masyarakat Islam di Negara-negara lain, yang berujung dengan penjajahan mereka terhadap Negara-negara di timur (meliputi Indian, Cina, Birma yang masyarakatnya pemeluk agama-agama Hindu, Budha atau lainnya dengan cara mengirimkan para sarjana yang mendapat sebutan dengan orientalis.

Para orientalis biasanya membagi dunia menjadi dua yaitu Barat (west atau occident) dan Timur (east atau orient) (Azizy, 2003: 91), yang berfungsi sebagai doktrin politik untuk menguasai timur yang merupakan ngara atau masyarakat yang lebih lemah dibandingkan dengan Barat.

Setelah tujuan penjajahan berkurang atau bahkan sudah tidak ada, Islamic studies di Barat di tempatkan pada kajian akademik, dimana pelakunya lebih merasa adanya tuntutan akademik, bukan lagi tuntutan politis dan kalau kita amati secara seksama dan menyeluruh. Menurut Martin, (1985: 2-3) Islamic studies di Barat dilakukan dengan melalui salah satu dari empat pendekatan yaitu:

Pertama, menggunakan metode ilmu-ilmu yang masuk di dalam kelompok humanities, seperti filsafat, filologi ilmu bahasa, dan sejarah terkadang dimasukkan ke dalam bagian social sciences.

Kedua, menggunakan pendekatan yang biasa dipakai dalam Divinity schools yakni berupa disiplin atau kajian teologi agama-agama, studi Bible dan sejarah gereja,. Oleh Karena itu tidak aneh kalau banyak orientalis adalah juga pastur, pendeta, uskup atau setidaknya missionaries.

Ketiga, menggunakan metode ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, ilmu politik dan psikologi (ada yang mengelompokkan psikologi ke dalam humanities). Oleh karena itu mereka bisa disebut dengan orientalis atau ahli di dalam ke-Islaman setelah mendapatkan pendidikan di dalam jurusan atau fakultas disiplin-disiplin tersebut dengan mengadakan kajian/penelitian, khususnya untuk penulisan disertasinya, tentang Islam atau masyarakat Islam.

Keempat, menggunakan pendekatan yang dilakukan di dalam department-department, pusat-pusat atau hanya committes, untuk area studies seperti Midate Eastern Studies / near, Eastern Languages and Civilizations dan South Asian Studies.

Keunggulan studies Islam dibarat adalah pada aspek metodologi dan juga strategi, yang dimaksud strategi disini adalah tentang bagaimana cara untuk menguasai materi yang begitu banyak dapat dipergunakan seefisien mungkin.

Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial

Pengkajian terhadap agama sesungguhnya sudah memperoleh tempat yang sangat lama dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Agama sudah menjadi pusat perhatian para ilmuwan semenjak dahulu. Dimulai dengan usaha ilmiah yang dilakukan oleh E.B. Taylor, J.J. Frazer, R.R. Marett hingga Karl Marx, Durkheim, Weber dan juga Bellah. Kajian tersebut tentunya tidak melihat agama sebagai doktrin akan tetapi melihat agama di dalam kehidupan masyarakat. Taylor, Frazer disebut sebagai ahli-ahli antropologi, sedangkan Marx, Durkheim, Weber dan Bellah adalah ahli sosiologi. Mereka menempatkan agama sebagai subject matter kajiannya (Nur Syam, 2009).

Islam sebagai agama merupakan mekanisme integrasi sosial  yang memiliki hubungan yang erat dengan suatu yang tidak diketahui dan tidak terkontrol/nomena.

Salah satu kepentingan besar Islam sebagai sebuah ideologi sosial adalah bagaimana mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visinya mengenai transformasi sosial. Semua ideologi atau filsafat sosial menghadapai suatu pertanyaan pokok, yaitu bagaimana mengubah masyarakat dari kondisinya sekarang menuju keadaan yang lebih dekat dengan tataanan idealnya. Elaborasi terhadaap pertanyaan pokok semacam ini biasanya menghasilkan teori-teori sosial yang berfungsi untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang empiris pada masa kini,dan sekaligus memberikan insight mengenai perubahan dan transformasinya. Karena teori-teori yang diderivasi dari ideologi-ideologi sosial sangat berkepentingan terhadap terjadinya transformasi sosial, maka dapat dikatakan bahwa hampir semua teori  sosial tersebut bersifat transformative (Kuntowijiyo, 1991: 337).

Sebagaimana diungkapkan oleh Bagder (1996:23), ilmu-ilmu sosial telah mendapatkan penghargaan tertinggi di dunia modern karena diyakini bahwa ia menampilkan analisis terhadap peristiwa-peristiwa kontemporer dalam masyarakat. Para pejabat mengambil keputusan dan para perencana program yang menaruh perhatian pada masalah sosial meminta bantuan kepada para pakar ilmu sosial. Para ahli ilmu sosial sendiri mengambil alih berbagai metodologi penelitian ilmu-ilmu kealaman.

Dengan demikian, ilmu-ilmu sosial tidak lagi dikategorikan dengan ilmu-ilmu humaniora dan tidak juga dianggap membawa pendapat-pendapat yang bersifat impresionistik, intuitif ataupun subyektif .

Pendekatan yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial dengan displin ilmu yang ditekuninya memberikan suatu kejelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan fenomena agama dalam kerangka seperti hukum sebab-akibat, stimulus dan respon.

Ada dua hal yang mendasari ketika agama (termasuk Islam) dijadikan sebagai objek kajian, yaitu:

  1. Mengkaji adalah melakukan obyektivitas dalam obyek kajiannya, artinya dalam kajian agama tidak hanya orang lain yang diteliti tetapi sang peneliti harus terlibat di dalamnya (Martin, 1985: 7). Karena agama merupakan hal sangat pribadi dan mendalam bagi manusia, sehingga hanya dapat diamati dengan hati-hati.
  2. Secara tradisional, agama dianggap suatu yang sakral, suci, dan agung. Maka permasalahan yang akan muncul adalah ketika peneliti bersinggungan atau mengkritisi hal-hal yang terkait dengan masalah tersebut. Apabila hal itu terjadi, maka dianggap sebagai bentuk pelecehan, bahkan dianggap merusak nilai tradisonal agama.

Kesimpulan

Terjadi perbedaan pendapat, apakah Islam,  sudah cukup dikaji dengan ilmu-ilmu yang betul-betul bersumber dari Islam itu sendiri atau dengan melihat kondisi yang komplek pada masa sekarang, seyogyanya, Islam membutuhkan alternatif pendekatan ilmu dari luar Islam untuk mengkaji Islam sebagai sebuah agama.

Dalam hal ini, adanya dialog antara ilmu keislaman dan ilmu sosial dalam mengakaji Islam sebagai suatu agama, seyogyanya adalah suatu kebutuhan yang sulit untuk dipungkiri. Hal itu perlu terjadi, karena Islam tidak hanya memilki sisi normatif saja, tetapi juga memilki sisi historis. Pada aspek historis inilah, Islam tidak lepas dari penganutnya yang tentunya memiliki perilaku yang saling berbeda antara individu yang satu dengan individu yang, atau antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

Menurut Martin, ada beberapa pendekatan yang bisa dijadikan alternatif dalam kajian Islam yaitu: Pertama, menggunakan metode ilmu-ilmu yang masuk di dalam kelompok humanities; kedua, menggunakan pendekatan yang biasa dipakai dalam Divinity schools; ketiga, menggunakan metode ilmu-ilmu sosial,; keempat, menggunakan pendekatan yang dilakukan di dalam department-department, pusat-pusat atau hanya committes, yang disebut dengan Istilah area studies

*Guru SMA Nazhatut Thullab Prajjan


Postingan Terkini

Problem Organisasi dan Pengungkapan Keributan

Oleh :

Abdullah

 

Kapan kira-kira terakhir kali Anda bangun di pagi hari? Atau Anda memang tidak pernah . . . BACA SELANJUTNYA

Kalah Bukan Alasan untuk Saling

Oleh: Abdullah

 

Tentu Anda tidak bosan-bosannya selalu diingatkan tentang bagaimana . . . BACA SELANJUTNYA

Pemilukada Oleh DPRD, Benarkah Amanah

Oleh:

Lukman Hakim

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Ketua Ikatan Mahasiswa . . . BACA SELANJUTNYA

Langit Biru (Sebuah Cerpen)

Oleh: 

M. Ihsanuddin Nursi

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Mahasiwa D4 Teknik . . . BACA SELANJUTNYA

Urgensi Media Sosial dalam Peyebaran

Oleh : Khoirun Nisa'

(Alumni pp. Nazhatut Thullab Sekaligus Mahasiswa Aktif di . . . BACA SELANJUTNYA

Peran Pondok Pesantren Dalam Menjaga

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

BACA SELANJUTNYA

Analisis Kebijakan Publik Mengenai Perppu

Oleh : Nur Jamal

 

Pendahuluan

Pemerintah resmi menerbitkan . . . BACA SELANJUTNYA

Hegemoni Kiai dan Blater Dalam

Oleh : Nur Jamal

 

Teori  Hegemoni 

Secara subtansial . . . BACA SELANJUTNYA

Pondok Pesantren : Peran dan

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

 

BACA SELANJUTNYA

Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-Ilmu

 Oleh: Muh. Sholeh Hoddin*

Keberadaan agama diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan . . . BACA SELANJUTNYA