Urgensi Media Sosial dalam Peyebaran Dakwah di Era Milenial

14 Jul 2019

Oleh : Khoirun Nisa'

(Alumni pp. Nazhatut Thullab Sekaligus Mahasiswa Aktif di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

 

Berbicara perihal dakwah,maka kebanyakan masyarakat akan mengira bahwa dakwah adalah sebatasceramah atau nasihat yang di sampaikan di kebanyakan masjid, musholla, sekolah atau pengajiandenganmenggunakan metodedakwah masa rosuullah SAW ataupun dakwah dimasa ulama- ulama klasik, yaitu berdakwah dengan cara; sorang da’i (orang yang berdakwah) menyeru mengenai agama islam atau ajaran- ajaran yang sifatnya positif serta ajakan untuk melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar. Kemudian di hadapannyanya terdapatmustami’ (orang yang mendengar), dan yang mejadi garis besar adalah keberadaan penda’i dan mustami’harus berada dalam satu majelis.Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan modern,dakwah tak lagi dikenal hanya sebatas harus dalam satu majelis, karena berdakwah juga bisa juga di tempat sunyi, ataupun ramai, tenang ataupun ricuh, bahkan bisa diwaktu menyendiri ataupun saat bersosialisasi, terlebih dengan adanya media sosial yang menjadi perantara penyambung lidah antara penda’i dengan mustami’, Sehingga tak perlu menunggu adanya momen-monen tertentu untuk mensyiarkan agama Islam, akan tetapi para penda’i bisa menyalurkan berbagai macam ilmu pengetahuan mengenai Islam kepada semua golongan dengan perantara media sosial dimanapun dan kapanpun.

Dalam beberapa literasi mengenai bagaimana pensyiaran agama islam, dakwah yang berupa anjuran, nasehat, peringatan dan pengerahan yang sifatnya mengajak menjadi alternative paling sepektakuler dalam menyebarkan pundih-pundih Islam. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa dakwah di hukumi fardhu kifayah (kewajiban kolegtif) dan sebagiannya lagi menyatakan fardhu ‘Ain (kewajiaban personalitas) bagi setiap ummat islam.Adapun anjuran mengenai dakwah telah ada pada masa Rosulullah, sedangkan praktiknyatelah berlangsug di masa Nabi-Nabi terdahulu.Seperti nabi Ibrahim As, Nabi musa As, Nabi ‘Isa As dan nabi- nabi lainnya.Dalam ajaran islam, Allah SWT dengan perantara Rosulnya mengajarkan ummat muslim untuk selalu menyeru pada jalan kebaikan dengan cara yang baik-baik seperti yang termaktub dalam QS. Ali Imran: 104 yang artinya:

Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru pada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung

Pada masa sekarang, yang dikenal dengan Era Milenial, aktivitas dakwah di kalangan muslimsemakin populer, sehingga penyebaran islam melalui dakwah semakin besar dan berkembang pesat. Dakwah tidak lagi digunakan hanya sebatas penyampaian khutbah di majid-masjid atau musholla- musholla, kantor, sekolah dan lembaga formal lainnya, namun seiring dengan perkembangan zaman yang melahirkan berbagai macam keunikan seperti teknologi jejaring sosial dan semacamnya, telah membawa perubahan yang sangat sepektakuler dalam melaksanakan perintah amar ma’ruf nahi mungkar, terlebih dengan semakin meningkatnya kemajuan teknologi informasi penyebaran dakwah islami yang tersebar melalui media sosial,kinimenjadi trending di kalangan para pendakwah- pendakwah, baik penda’i muda maupun penda’i yang sudah lama menggeluti dunia perdakwahan mampu membuatsemacam kreatifitas dalam penyampaian berbagai ilmu pengetahuan, politik dan ilmu agama yang termasuk didalamnya yaitu penyebaran islam dengan cara dakwah. Sehingga sangat ironis, jika ditemukan masyarakat masih buta karena berangkapan bahwa media sosial hanya akan berdampak negative dan merusak masa depan, karena sejatinya segala sesuatu akan mempunya dua sisi yang berlawanan yaitu positif dan negative, tergantung siapa dan untuk apa benda itu digunakan, maka hal itu juga akan berlaku pada media sosial yang dijadiakan alat dalam penyaluran dakwah, dalam artian “ media sosial akan menjadi perusak masa depan jika penggunaannya tidak berdasarkan kepentingan. Namun sebaliknya, akan memberikan dampak positif jika di gunakan pada hal-hal yang semestinya”

Dalam tataran hidup masyarakat media sosial atau yang sering di sebut dengan medsos menjadi warna baru dalam kehidupan ummat di seluruh penjuru dunia.Penawaran mengenai media- media sosial semakin tidak bisa di perhitungkan hanya dengan hitungan jari. Medsos telah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan manusia yang tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, pintar ataupun bodoh bahkan cacat ataupun sempurna dan lain sebagainya, semua penduduk bumi bisa mengakses berbagai informasi yang di tawarkan melalui media sosial dengan sangat mudah, sehingga media sosial menjadi hal yang sangat urgent dalam mendapatkan informasi, menjalin komunikasi, dan proses updating. Berbagai varian dan inovasi dari media sosial, menjadi medium uatama dalam menyelami dunia maya seperti facebook,twitter, youtub dan semacamnya.Maka dari itu, tidak diherankan lagi jika media sosial sering di jadikan tombak oleh para pendakwah sebagai media atau sarana penyebaran dakwahanya. Meski secara nayata media sosial menjadi alat terpopuler dalam penyebaran islam, namun media sosial juga dapat menjadi boomerang bagi agam islam khususnnya bagi para penda’i yang diminta untuk berhati-hati dari setiap ucapan yang hendak disampaikan, karena melihat bahwa penyampaian dakwah dengan cara ceramah di masjid- masjid ataupun musholla-musholla sangatlah jauh berbeda dengan penyampaian dakwah melalui media soasial yang sifatnya tidak terbatas hanya di kalangan ummat islam saja melainkan juga bisa di akses oleh semua penjuru dunia yang mengenal adanya media sosial. Sehingga kehati- hatian dalam menyampaikan ajaran islam pelu diperhatikan dengan sangat cermat, sebab resiko penyampaian dakwah yang kurang tepat akan lebih besar dan lebih berat ketika media yang digunakan adalah media sosial, dan hal semacam tersebut juga berlaku pada pertanggung jawabannya, baik didunia maupu dikahirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl: 25 dan QS. Yasin: 12 yang artinya:

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan.Ingatlah amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25)

Sungguh, kamilah yang menghidupkan orang orang yang mati dan kamilah yang  menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan di dalam kitab yang jelas (al-lawh al-mahfuzh)­­_ (QS. Yasin: 12)

Dari ayat diatas, maka Allah SWT mewanti- wanti hambanya untuk selalu berhati- hati dalam setiap tindakan yang hendak dikerjakan, karna Dialah (Allah) yang maha memiliki keukuasaan diatas kekuasaan manusia, pengetahuannya meliputi semua urusan, termasuk niat seseorang, apakah dia benar- benar tulus dalam mensyiarkan agama islam, atau karena nominal tunjangan yang ditawarkan, sehingga segala Sesutu dari tindakannya tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. “Allahu a’lam”.

Berdakwah melalui media sosial, tergolong cukup mudah dan sangat praktis karena bukan hanya jangkauannya yang sangat luas, namun media sosial juga menghilangkan batas-batas rasisme, golongan, agama dan lainnya sehingga medsos menjadi media bebas untuk menuangkan pemikiran seseorang dalam sebuah tulisan maupun ucapan dan tidak terbatas oleh waktu, bahkan ulasan pembahasannya pun akan lebih gamblang, mengena dan dapat ditelaah pembaca kapanpun dan dimanapun ia berad, sehigga untuk mengulas sebuah permasalahan yang banyak terjadi dimasyarakat seorang da’i harus memiliki wawasan yang luas serta pengalaman baik bersifat pribadi atau pengalaman yang didapatkan dari orang lain. Dengan melihatfakta lapangan yang ada, peluang berdakwah sangatlah terbuka lebar dan luas, Hampir- hampir tak ada alasan bagi siapa saja untuk tidak ikut andil dalam berdakwah. Dengan jejaring sosial, siapapun bisa menyalurkan aneka lmu seperti dakwah dan tarbiyah kepada semua teman, kerabat, bahkan orang tak dikenal sekalipun, sehingga Menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar kepada semua kalangan kini semakin mudah dan menarik dengan adanya media sosial. Meski tidak semua kalangan dapat menerima penyebaran islam dengan cara berdakwah di media sosia, namun hal tersebut mendapat apresiasi darimayoritas  ulama, dan komunitas pecinta Amar Ma’ruf Nahi Mungkar terlebih dalam menghadapi Era Milenial dimasa sekarang.

Selain bisa dengan mudah dalam masalah pengaksesan informasi melalui internet, medsos juga bisa membangun semangat dakwah para pemuda, sebab siapa saja yang hendak terjun dalam dunia dakwah di era moderen (berdakwah dengan media sosial) tidak disyaratkan pangkat ataupun penddikin yang tinggi, melainkan cukup dengan bisa memahami nash- nash syariat baik dalamAl- Quran maupun As-Sunnah serta dapat memahami tafsiran Nash tersebut sekaligus bisa menyimpulkan apa yang dikehendaki oleh nash- nash itu. Tidak cukup sampai disitu, dakwah dengan menggunakan media sosial juga menjadi sangat efektif,bahkan sangat tepat bagi seorang muallaf atau anak kecil, bahkan para remaja yang tidak cukup hanya dengan satukali penyampaian kemudian dapat dipahami.sehinggadengan menjadikan media sosial sebagai sarana dalam berdakwah, maka dapat memberikan hal yang positif karena mereka bisa mengulang – ulang penjelasan yang telah disampaikan tatkala di butuhkan. Metode penyampaian dakwah melalui media sosal, cukup berfariasi dan menarik perhatian masyarakat khususnya dimasa milenial yang sudah pasti mengatahui berbagai macam fungsi dari aplikasi yang sediakan didalam media sosial seperti; melakuakn siaran langsung di akun instagram, membuka cennel youtub, membuat tulisan dalam blogger, tweter, bahkan yang paling digemari kebanyakan dari pengguna mediasosial yaitu; berbagi pengalaman melalui story Whatsap, facebook, instagram dan semacamnya.Diantara sekian metode dan tatacara berdakwah, seperti yang tersedia dimasa sekarang, Al-Qur’an dan As-Sunnah sendiri selalu menjadi acuan bagaimana penyampaian dakwah dengan benar. Seperti dalam  QS. An-Nahl : 125

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat di atas diawali dengan kalimat perintah yang di tujukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajak semua manusia kepada jalan yang lurus yakni addinul Islam. Maka ayat ini juga menjadi pelajaran penting bagi semua umat islam untuk menyampaikan dan mengajak orang lain agar menjadikan agama islam ini sebagai satu-satunya ajaran dalam kehidupan ini, serta menjalankan apa yang telah diperintahkan dan menjahui apa yang telah di larang oleh agama islam

Dalam memperluas dakwah, tidak ada salahnya kalau memanfaatkan teknologi internet yang telah berkembang pesat saat ini.Internet menjadi salah satu media paling efektif untuk menyalurkan bakat atau pemikiran karena internet digunakan dan diakses secara global seluruh manusia yang ada di muka bumi ini.Meskipun demikian, seseorang juga harus dapat bijak dalam menggunakan teknologi ini karena internet bak dua belah mata pisau yang dapat membentuk manusia-manusia berkepribadian positif dan juga sebaliknya apabila seseorang tidak bijak dalam menggunakannya maka dapat membentuk manusia-manusia berkepribadian negatif. Maka dari itu, mari kita jadikan media internet sebagai sarana yang dapat mendukung wawasan kita, sehingga banyak hal-hal positif yang didapatkan dan dapat diamalkan kepada orang lain yang membutuhkan.


Postingan Terkini

Pemilukada Oleh DPRD, Benarkah Amanah

Oleh:

Lukman Hakim

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Ketua Ikatan Mahasiswa . . . BACA SELANJUTNYA

Langit Biru (Sebuah Cerpen)

Oleh: 

M. Ihsanuddin Nursi

Alumni PP. Nazhatut Thullab

Mahasiwa D4 Teknik . . . BACA SELANJUTNYA

Urgensi Media Sosial dalam Peyebaran

Oleh : Khoirun Nisa'

(Alumni pp. Nazhatut Thullab Sekaligus Mahasiswa Aktif di . . . BACA SELANJUTNYA

Peran Pondok Pesantren Dalam Menjaga

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

BACA SELANJUTNYA

Analisis Kebijakan Publik Mengenai Perppu

Oleh : Nur Jamal

 

Pendahuluan

Pemerintah resmi menerbitkan . . . BACA SELANJUTNYA

Hegemoni Kiai dan Blater Dalam

Oleh : Nur Jamal

 

Teori  Hegemoni 

Secara subtansial . . . BACA SELANJUTNYA

Pondok Pesantren : Peran dan

Oleh: Zam FaQoth

Salah Satu Kebuleh (Khadim) di PP. Nazhatut Thullab

 

BACA SELANJUTNYA

Studi Keislaman dengan Pendekatan Ilmu-Ilmu

 Oleh: Muh. Sholeh Hoddin*

Keberadaan agama diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan . . . BACA SELANJUTNYA

Membangkitkan Kembali Semangat Menulis

“Membaca Belum Tentu Menulis, Tetapi Menulis Sudah Pasti Membaca”

 

BACA SELANJUTNYA

Maha-Santri, antara Harapan, Tanggung Jawab,

Dalam evolusi perkembangan pendidikan di Indonesia, setiap elemen harus melakukan pendongkraan yang sangat . . . BACA SELANJUTNYA