GELAR RESEPSI PELANTIKAN, DPP IMAN DIHARAPKAN MENJADI UJUNG TOMBAK PESANTREN

Kamis (26/06), Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Alumni Nazhatut Thullab (DPP IMAN) menggelar resepsi pelantikan pengurus DPP IMAN periode 2022-2024. Bertempat di Front One Hotel, Pamekasan, Madura. Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan kehangatan.

Resepsi ini tidak hanya dihadiri oleh para pengurus dan anggota DPP IMAN atau DPC IMAN saja, turut hadir dalam acara tersebut para Ustadz, Ustadzah, Civitas Pondok Pesantren, hingga tokoh-tokoh Alumni dari berbagai sekretariat Ikatan Alumni Pondok Pesantren Nazhatut Thullab (IKAPPNAZ). Selain dari Pihak Internal Pesantren, Hadir pula Organisasi Ekternal Seperti; Forum Komunikasi Mahasiswa Banyuanyar (FKMSB)Ikatan Mahasiswa Bata Bata (IMABA) dan Persatuan Mahasiswa Tanwirul Islam (PERMATA)

Resepsi pelantikan dikemas dengan Tema “Memperkokoh Karakter Santri sebagai Pioneer menyambut Indonesia Emas 2045”. Acara dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya & Mars Nazhatut Thullab,  kemudian sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Rudianto, S.H, selaku ketua panitia pelantikan, M. Djalali S.Sos., selaku Ketua Demisioner DPP IMAN Periode 2017-2022, Agus Husnul Yakin, M.Pd selaku Kepala Bidang Wali & Alumni Biro IV Humas & Kerjasama. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara inti, yaitu resepsi pelantikan DPP IMAN dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) pengurus DPP IMAN dan Pembacaan Catur Setya Pondok Pesantren Nazhatut Thullab. Selanjutnya acara ditutup dengan sambutan oleh Ketua Terpilih, Saudara Abdhalul Farizi dan dilajutkan dengan do’a penutup.

Usai resepsi pelantikan, acara dilanjutkan dengan silaturrahim bersama Pimpinan Pondok Pesantren Nazhatut Thullab, KH. Muhammad Mu’afi. Beliau banyak memberi motivasi dan inspirasi kepada hadirin. Beliau berharap DPP IMAN dan IKAPPNAZ selain menjadi forum untuk memperkuat silaturrahim antar alumni, juga menjadi ujung tombak dan generasi penerus yang bermanfaat serta dapat mengharumkan nama baik Nazhatut Thullab. “apa yang Pondok lakukan adalah proses, tetapi ibaratkan produk, produk hanya bisa dijual ketika outputnya bisa menjadi outcome. Outputnya pondok itu adalah manusia, manusianya itu santri dan santri itu kalian. Ketika kalian mampu menjadi outcome, maka saat itulah, Pondok ini menjadi besar”, ungkap beliau.


Sarah Wardatul Fajar & Rofiqi, Jurnali al-‘Allam